Masalah pengangguran di Kalimanatan Barat


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa karena rahmat dan bimbingannya  kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul ‘’Masalah pengangguran di Kalimanatan Barat
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. kami mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
kami  menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang Dosen,teman dan para pembaca  untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih atas segala saran yang akan kami dapatkan dalam penulisan makalah ini ,semoga saja makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca demi kemajuan ilmu pengetahuan terutama di bidang yang sedang dijalani yakni Ekonomi.


DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
1.2.       Rumusan Masalah
1.2.1.      Apa pengertian pengangguran
1.2.2.      Macam-macam pengangguran
1.2.3.      Apa faktor-faktor penyebab pengangguran
1.2.4.      Apa yang menjadi masalah pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.2.5.      Apa dampak dari pengangguran bagi Provinsi Kalimantan Barat
1.2.6.      Sajian data pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.2.7.      Bagaimana cara mengatasi pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.3.       Tujuan Penulisan
1.4.       Manfaat
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1.       Apa pengertian pengangguran
2.2.       Macam-macam pengangguran
2.3.       Apa faktor-faktor penyebab pengangguran
2.4.       Apa yang menjadi masalah pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
2.5.       Apa dampak dari pengangguran bagi Provinsi Kalimantan Barat
2.6.       Sajian data pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
2.7.       Bagaimana cara mengatasi pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
BAB III PENUTUPAN
3.1.       Kesimpulan dan Saran
3.2.       Daftar pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Salah satu masalah sosial yang dihadapi Provinsi Kalimantan Barat adalah masalah penganguran. Pengangguran tidak hanya menjadi masalah sosial di Provinsi Kalimantan Barat, tetapi sudah menjadi masalah sosial di Provinsi-provinsi lain di Indonesia. Khusus di Kalimantan barat banyak sekali faktor yang menjadi penyebab penganguran, seperti : mutu pendidikan, kesiapan tenaga kerja, fasilitas, lapangan pekerjaan, sumber daya manusia yang tidak memadai.  Hal tersebut membuat banyak sekali orang yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapat pekerjaan. Pengangguran yang tinggi dapat berdampak secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap kemiskinan, kriminalitas, dan masalah-masalah sosial lain yang juga semakin meningkat. Dengan jumlah angkatan kerja yang semakin besar, arus migrasi yang terus mengalir masuk ke Privinsi Kalimantan Barat, serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini, membuat permasalahan  pengangguran menjadi sangat besar dan kompleks.
Menurut data terakhir, jumlah penganguran di Kalimantan Barat pada tahun 2010 di perkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa atau sekitar 4,62 persen dari 2,2 juta jiwa angkatan kerja yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Jika masalah pengangguran yang demikian besar dibiarkan berlarut-larut, maka sangat  besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial yang berdampak tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juda menimpa orangtua yang dapat kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup, sehingga angka penagguran di Provinsi Kalimantan Barat menjadi meningkat.
Berdasarkan data BPS, tahun 2011 tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Barat (5,44%) relatif lebih rendah di bandingkan Kalimantan Selatan (6,36%) dan Kalimantan Timur (10,83%), lebih tinggi dari Kalimantan Tengah (3,39%). Tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat (9,30%) lebih tinggi dari Kalimantan lainnya, dimana Kalimantan Tengah (7,02%), Kalimantan Selatan (5,12%) dan Kalimantan Timur (7,73%).
Fenomena lain yang terjadi di Kalimantan Barat adalah penyerapan tenaga kerja tertinggi Kabupaten Pontianak (304.761 jiwa) dan terendah Kota Singkawang (68.363 jiwa) tetapi tingkat kemiskinan tertinggi Kabupaten Landak (18,65%) dan terendah Kabupaten Sanggau (6,25%). Kota/Kabupaten dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar ternyata tidak diimbangi dengan tingkat kemiskinan yang rendah.
Pembangunan seharusnya menghasilkan kinerja pembangunan yang semakin baik daerah yang diukur dari pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan. Tetapi dari variabel makro ekonomi yang dicapai, dengan pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan, ternyata belum sepenuhnya mengatasi permasalahan yang dihadapi daerah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Volume 8, 2012 177 . Barat. Permasalahan tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, pengangguran yang relatif tinggi dan kemiskinan yang relatif masih tinggi.
Kalau diperbandingkan antara daerah kabupaten dengan kota, ternyata tingkat pengangguran di Kota Pontianak dan Kota Singkawang relatif lebih tinggi di bandingkan dengan daerah kabupaten. Hal ini dikarenakan, sebagai daerah perkotaan tidak bisa menghindari arus urbanisasi (migrasi), sehingga perkembangan jumlah penduduk yang cepat diperkotaan tidak diikuti dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup, akibanya timbul pengangguran. Sedangkan untuk daerah kabupaten yang sebagian besarnya tingkat pengangguran relatif rendah. Walaupun dengan pendidikan yang relatif rendah, tersedianya sektor primer di pedesaan yang untuk memasuki lapangan pekerjaan ini tidak dengan persyaratan khusus, sehingga mempermudah penduduk untuk bekerja, dengan demikian tingkat pengangguran kabupaten lainnya relatif lebih rendah.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1.       Pengertian Pengangguran
Pengertian pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja ( yang berumur 15-64 tahun ) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapat pekerjaan. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya : seperti ibu rumah tangga, siswa sekolah smp, sma, mahasiswa, perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
2.2.       Macam-macam Pengangguran
Pengangguran sering di artikan sebagai angkatan kerjayang belum berkerja atau tidak berkerja secara optimal. Berdasarkan pengertian di atas, maka pengangguran dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :
ݬ    Pengangguran terselubung( Disguissed Unemployment ) adalah tenaga kerja yang tidak berkerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
ݬ    Setangah Menganggur ( Under Enemployment ) adalah tenaga kerja yang tidak berkerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan. Tenaga kerja yang dikatakan setengah menganggur, merupak an tenaga kerja yang berkerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
ݬ    Pengangguran Terbuka ( Open Unemployment ) adalah tenaga yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Penggangguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha mencari pekerjaan.
Ø   Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya
o    Pengangguran Konjungtural ( cycle Unempioyment ) adalah penganguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang ( naik-turunnya ) kehidupan perekonomian/ siklus ekonomi.
o    Pengangguran Struktural ( Struktural Unemployment ) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang pengangguran structural bias di akibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti : akibat permintaan berkurang, akibat kemajuan, dan penggunaan teknologi akibat kebijakan pemerintah.
o    Pengangguran Friksional ( Frictional Unemployment ) adalah pengangguran yangyang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran seperti ini sering di sebut pengangguran sukarela.
o    Pengangguran Musiman adalah pengangguran yang terjadi karena pergantian musimtanam ke musim panen.
o    Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin.
o    Pengangguran Siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian ( karena terjadi resesi ). Pengangguran siklus di sebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat.




2.3.       Faktor-faktor Penyebab Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Faktor-faktor yang menjadi penyebab pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut :
§   Mutu pendidikan di Provinsi Kalimantan yang masih rendah menyebabkan sumber daya manusia menjadi sulit bersaing.
§  Besarnya jumlah angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja (kesenjangan antara supply and demand). Ke tidak seimbangan terjadi apabilah jumlah angkatan kerja lebih besar dari pada kesempatan kerja yang tersedia, sedangkan kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
§  Struktur lapangan kerja tidak seimbang.
§  Masih adanya anak yang putus sekolah dan lulus sekolah tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya yang tidak terserap dunia kerja atau berusaha mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai.
§  Terjadinya pemutusan hubungan kerja ( PHK ) karena krisis global.
§  Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dengan penyediaan tenaga terdidik  tidak seimbang, dengan demikian apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar dari pada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasanya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dengan yang tersedia. Ke tidak seimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
§  Terbatasnya sumber daya alam di kota yang tidak memungkinkan lagi warga masyarakat untuk mengelola sumber daya alam menjadi mata pencarian.
§  Kurangnya informasi.
§  Tidak adanya system penerimaan publik.
§  Sulit menerapkan kepintarannya dalam dunia pekerjaan.

2.4.       Masalah Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Tingginya angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di Provinsi Kalimantan barat. Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus faktor penyebab  rendahnya taraf hidup karena Terbatasnya penyerapan sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Pemanfaatan sumber daya yang rendah dikarenakan buruknya efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Dua penyebab utama dari rendahnya pemanfaatan sumber daya manusia adalah karena tingkat pengangguran penuh dan tingkat pengangguran terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak. Jika hal ini di biarkan terus-menerus maka akan sangat besar kemungkinan angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat akan semangkin tinggi. Hal tersebut akan berakibat buruk, dan dapat menyebabkan terjadinya masalah sosial yang semangkin besar di masyarakat, seperti kemiskinan, kriminalitas dan lain-lain.
2.5.       Dampak Pengangguran Bagi Provinsi Kalimantan Barat
Pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika tingkat pengangguran tinggi, sumberdaya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendapatan masyarakat akan merosot. Situasi ini menimbulkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pada  emosi masyarakat dan dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Adapun dampak pengangguran terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat adalah sebagai berikut. Dilihat dari segi ekonomi, pengangguran memiliki dampak sebagai berikut :
ü  Pengangguran menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam berusaha.
ü  Pengangguran akan menghambat investasi, karena menurunnya jumlah tabungan masyarakat.
Ø   Dari segi sosial, dampak pengangguran adalah sebagai berikut :
•           Perasaan minder ( rendah diri ),
•           Meningkatnya angka kriminalitas,
•           Meningkatnya angka kemiskinan,
•           Munculnya pengamen, pengemis, anak jalanan, dan
•           Tingginya anak-anak yang putus sekolah.

2.6.       Data Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Jumlah pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2010 diperkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa dari total jumlah penduduk yang mencapai ±4.393.239 jiwa. Menurut data BPS ( tahun 2010 ), tingkat pengangguran terbuka ( TPT ) tertinggi terjadi di kota Singkawang sebesar 8,05 persen, di susul Kabupaten Pontianak 7,80 persen, Kota Pontianak 7,79 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka ( TPT ) terendah di Kabupaten Melawi sebesar 1,30 persen dan di susul Kapuas Hulu 2,25 persen. Sementara dari sisi jumlah pengangguran, terbesar di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya masing-masing 20,3 ribu jiwa dan 14,7 ribu jiwa, sedangkan paling sedikit di Kabupaten Melawi dan Sekadau, masing-masing 1,27 ribu jiwa dan 2,24 ribu jiwa, Sumber: Badan Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut hasil survei angkatan kerja nasional ( Sakernas ), tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK )di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 73,17 persen atau sebanyak 2,2 juta jiwa. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK ) terbesar di kabupaten Kapuas hulu sebesar 79,82 persen dan melawi 78,95 persen. Sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK ) terendah di Kota Pontiank sebesar 65,61 persen dan di Kota Singkawang 66,61 persen.
Sementara untuk persentase penyerapan tenega kerja berada di tiga sector, yakni pertanian 60,43 persen; perindustrian 12,39 persen; dan pelayanan 27,18 persen. Menurut data sektor pertanian yang paling tinggi menyerap tenaga kerja, yakni di Kabupaten Landak sebesar 82,33 persen, terendah di Kota Pontinak 5,44 persen. Untuk jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat yabg berkerja di sektor formal 27,55 persen, kemudian informal 72,45 persen, sumber BPS Provinsi Kalimantan Barat.

2.7.       Cara Mengatasi Pengangguran di Provinsi Kalimanta Barat
Pengangguran ada bermacam-macam, untuk mengatasinya harus di sesuaikan denagn jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sebagai berikut :
o  Pengangguran struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
ü   Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
ü   Segera memindahkan tenaga kerja dari sektor yang kelebihan ke  tempat dan sektor ekonomi yang kekeurangan.
ü   Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi lowongan kerja yang kosong .
ü   Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
ü   Menarik investor sebanyak-banyaknya.
o  Pengangguran friksional
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
v  Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
v  Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
v  Menggalakkan pengembangan seckor  informal, seperti home industri.
v  Menggalakan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
v  Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bias menyerap tenaga kerja secara langsung maupun utuk merangsang insvestasi baru dari kalangan swasta.
o  Pengangguran Musiman
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
ݬ    Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain.
ݬ    Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
o  Pengangguran Siklus
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
'    Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.
'    Meningkatkan daya beli masyarakat
o  Pengangguran Konjungtural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
         Meningkatkan daya beli masyarakat sehingga pasar menjadi ramai dan akan menambah jumlah permintaan.
         Mengatur bunga bank agar tidak terlalu tinggi sehingga investor lebih suka menginvestasikan uangnya.
o  Pengangguran Teknologi
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
*    Mempersiapkan masyarakat untuk untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan cara memasukkan materikurikulum pelatihan teknologi di sekolah.
*    Pengenalan teknologi sejak dini
*    Pelatihan tenaga pendidik untuk penguasaan teknologi.



Ø   Secara umum pengangguran dapat di atasi dengan :
ü  Memperluas kesempatam kerja yang dapat di lakukan dengang dua cara, yaitu sebagI berikut :
v  Pengembangan industri, truta jenis industri yang bersifat padat karya ( yang dapat menyerap relatif banyak tenaga kerja ).
v  Melalui berbagai proyek perkerjaan umum, seperti pembuatan jalan, saluran air dan jembatan.
ü Menurunkan jumlah angkatan kerja
Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk menurunkan jumlah agkatan kerja, misalnya dengan program keluarga berencana, program wajib belajar dan pembatasan usia kerja minimum.Meningkatkan kualitas kerja dari tenaga kerja yang ada, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan tututan keadaan. Banyak cara yang bias di lakukan, seperti melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kursus, balai latihan kerja, mengikuti seminar dan yang lainnya. 









BAB III
PENUTUP
3.1.        Kesimpulan
Pengangguran adalah suatu kondisi dimana orang tidak dapat berkerja, karena tidak tersedinya lapangan perkerjaan. Ada berbagai macam pengangguran, misalnya : Pengangguran terselubung(Disguissed Unemployment), Setangah Menganggur (Under Enemployment), Pengangguran Terbuka (Open Unemployment), Pengangguran Konjungtural (cycle Unempioyment), Pengangguran Struktural (Struktural Unemployment), Pengangguran Friksional (Frictional Unemployment), Pengangguran Musiman, Pengangguran teknologi, Pengangguran Siklus. Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka penggangguran adalah sebagai berikut : Mutu pendidikan di Provinsi Kalimantan yang masih rendah, Besarnya jumlah angkatan kerja, Struktur lapangan kerja tidak seimbang, Masih adanya anak yang putus sekolah, Terjadinya pemutusan hubungan kerja ( PHK ), Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dengan penyediaan tenaga terdidik  tidak seimbang, Terbatasnya sumber daya ( baik sumber daya alam maupun sumber daya alam ). Tingginya angka pengangguran yang di sebabkan hal-hal tersebut, menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di Provinsi Kalimantan barat. Pengangguran juga bisa berdampak terhadap kehidupan ekonomi, seperti : menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, menghambat investasi, serta terhadap kehidupan sosial masyarakat, seperti : Perasaan minder ( rendah diri ), Meningkatnya angka kriminalitas, Meningkatnya angka kemiskinan, Munculnya pengamen, pengemis, anak jalanan dan Tingginya anak-anak yang putus sekolah. Menurut data pengangguran pada 2011 diperkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa dari total jumlah penduduk yang mencapai ±4.393.239 jiwa. Hal ini sungguh sangat memperhatinkan dan harus segera di atasi dengan : Memperluas kesempatam kerja, Menurunkan jumlah angkatan kerja, Meningkatkan kualitas kerja dari tenaga kerja yang ada dan lain-lain.

3.2.        Saran
Sekitar ± 101,6 juta pengangguran di Provinsi Kalimantan barat, bukanlah persoalan kecil yang harus dihadapi oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dewsa ini dan kedepan. Penngangguran itu berpotensi menimbulkan kerawanan berbagai berbagai tindak criminal gejolak sosial, politik dan kemiskinan. Selain itu, pengangguran juga merupakan pemborosan yang luar biasa. Setiap orang harus mengkonsumsi beras, gula, minyak, pakaian, energi listrik, sepatu, jasa dan sebagainya setiap hari, tapi mereka tidak mempunyai penghasilan. Bisa kita bayangkan berapa ton beras dan kebutuhan lainnya harus disubsidi setiap harinya. Bekerja berarti memiliki produksi. Seberapa pun produksi yang dihasilkan tetap lebih baik dibandingkan jika tidak memiliki produksi sama sekali. Karena itu, apa pun alasan dan bagaimanapun kondisi Provinsi Kalimantan Barat saat ini masalah pengangguran harus dapat diatasi dengan berbagai upaya.
Sering berbagai pihak menyatakan persoalan pengangguran itu adalah persoalan muara. Berbicara mengenai pengangguran banyak aspek dan teori disiplin ilmu terkait. Yang jelas pengangguran hanya dapat ditanggulangi secara konsepsional, komprehensif, integral baik terhadap persoalan hulu maupun muara. Sebagai solusi pengangguran, berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh sebagai berikut.
Setiap penganggur diupayakan memiliki pekerjaan yang banyak bagi kemanusiaan artinya produktif dan remuneratif sesuai Pasal 27 Ayat 2UUD 1945 dengan partisipasi semua masyarakat Provinsi Kalimantan Barat.Lebih tegas lagi jadikan penanggulangan pengangguran  menjadi komitmen  bersama untuk itu diperlukan dua kebijakan, yaitu kebijakan  makro (umum)  dan mikro (khusus). Kebijakan makro (umum) yang berkaitan erat dengan pengangguran, antara lain kebijakan makro ekonomi seperti moneter berupa uang beredar, tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar yang melibatkan Bank Indonesia (Bank Sentral), fiskal (Departemen Keuangan) dan lainnya. 

3.3.        Daftar pustaka
Ø  http://www.kalbarprov.go.id/berita.php?id=581
Ø  http://organisasi.org/pengertian-pengangguran
Ø  http://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran
Ø  http://bangaisabe.blogspot.com/2008/11/pengangguran
Ø  http://nikenjawai.blogspot.com/2012/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Ø  RADIL/cara.mengatasi.pengangguran
Ø  http://visijobs.com/beta/news/detail/2011/10/13/Revisi-UU-Ketenagakerjaan-Antisipasi-Pengangguran-Dampak-Krisis

KONSEP EKONOMI REGIONAL

Ilmu ekonomi Regional muncul sebagai suatu perkembangan baru dalam ilmu ekonomi yang secara resmi baru mulai pada pertengahan tahun lima puluhan.
Ilmu ekonomi regional muncul sebagai suatu kritik dan sekaligus memberi dimensi baru pada analisis ekonomi dalam rangka melengkapi dan mengembangkan pemikiran ekonomi tradisional sehinga dapat memecahkan masalah-masalah sosial ekonomi yang terus berubah sepanjang zaman.
Ada dua kelompok ilmu ekonomi regional sebagai peralatan analisa:
1.      Regional science yang lebih banyak menekankan analisaanya pada aspek aspek sosial ekonomi dan geografi.
2.      Regional Planning yang lebih menekankan analisanya pada aspek-aspek tata ruang, land-use, dan perencanaan.
Ilmu ekonomi regional salah satu cabang ilmu ekonomi yang memiliki kekhususan yang tidak dibahas dalam cabang ilmu lainnya.  Samuelson (1955) mengemukakan bahwa persoalan pokok ilmu ekonomi mencakup 3 hal utama, yaitu:
1.      What commodities shall be produced and in what quantities yaitu barang apa yang diproduksi. Hal ini bersangkut paut dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang ada dalam masyarakat.
2.      How shall goods be produced yaitu bagaimana atau oleh siapa barang itu diproduksi. Hal ini bersangkut paut dengan pilihan tehnologi untuk menghasilkan barang tersebut dan apakah ada pengaturan dalam pembagian peran itu.
3.      For Whom are goods to be produced yaitu untuk siapa atau bagaimana pembagian hasil dari kegiatan memproduksi barang tersebut. Hal ini bersangkut paut dengan pengaturan balas jasa, sistem perpajakan, subsidi, bantuan kepada fakir miskin, dll. Ketiga hal ini melandasi analisis ekonomi kalssik.
4.      Domar (1946), Harrod ( 1948) Sollow (1956) dan Swan (1960) dan ekonom lain menjawab persoalan pokok yaitu :
5.      When do all those activities be carried out yaitu kapan berbagai kegiatan tersebut dilaksanakan. Pertanyaan ini dijawab dengan menciptakan teori ekonomi dinamis (dynamic economic analysis) dengan memasukkan unsur waktu ke dalam analisis.
6.      Where do all those activities should be carried out yaitu dimana lokasi dari berbagai kegiatan tersebut.
Ini lah inti perbedaan antara Ilmu Ekonomi Tradisional dengan Ilmu Ekonomi Regional. Ilmu ekonomi regional menjawab pertanyaan di wilayah mana suatu kegiatan sebaik dapat dilaksanakan.
Ilmu Ekonomi Regional  adalah  ilmu ekonomi wilayah, menitik beratkan pada bahasan dimensi tata ruang / space/ spatial.Hal-hal yang menjadi landasan pentingnya ekonomi regional :
1. Keuntungan sumber daya alam ( natural resources advantage )
2. Penghematan dari pemusatan ( economic of concentration )
3. Biaya angkut
Tujuan Ilmu Ekonomi Regional : Untuk menentukan diwilayah mana suatu kegiatan ekonomi sebaiknya dipilih dan mengapa wilayah tersebut menjadi  pilihan.
Peran Ilmu Ekonomi Regional
Penentuan kebijaksanaan awal, sektor mana yang dianggap strategis, memiliki daya saing dan daya hasilnya yang besar, comperative advantage.
Dapat menyarankan komoditi / kegiatan apa yang perlu dijadikan unggulan dan disub wilayah mana komoditi itu dapat dikembangkan.
Manfaat Ilmu Ekonomi Regional
·         Makro : Bagaimana pemerintah pusat dapat mempercepat Laju pertumbuhan ekonomi keseluruh wilayah
·         Mikro :   Dapat membantu perencanaan wilayah menghemat waktu dan biaya dalam proses menentukan lokasi suatu kegiatan ekonomi.
 KONSEP REGION
Ruang ( region ) merupakan hal yang sangat penting dalam bpembangunan wilayah. Konsep ruang mempunyai beberapa unsur, yaitu:
1.      Jarak;
2.      Lokasi;
3.      Bentuk;
4.      Ukuran.
Konsep ruang sangat berkaitan erat dengan waktu, karena pemanfaatan bumi dan segala kekayaan membutuhkan organisasi/pengaturan ruang dan waktu. Unsur-unsur  (jarak, lokasi, bentuk dan ukuran)  secara bersama-sama menyusun unit tata ruang yang disebut wilayah.
  1. Konsep Wilayah
Wilayah (region) didefinisikan sebagai suatu unit      geografi yang di batasi oleh kriteria tertentu dan bagian-bagiannya tergantung secara internal.
Wilayah dapat di bagi menjadi empat jenis yaitu:
1.      Wilayah homogen,
2.      Wilayah nodal.
3.      Wilayah perencanaan,
4.      Wilayah administrative.
Wilayah Homogen
Wilayah homogen adalah wilayah yang dipandang dari aspek/criteria mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat atau ciri-ciri kehomogenan ini misalnya dalam hal ekonomi (seperti daerah dengan stukturproduksi dan kosumsi yang homogen, daerah dengan tingkat pendapatan rendah/miskin dll.), geografi seperti wilayah yang mempunyai topografi atau iklim yang sama), agama, suku, dan sebagainya.
Contoh wilayah homogen adalah pantai utara Jawa barat (mulai dari indramayu,subang dan karawang),merupakan wilayah yang homogen dari segi produksi padi. Setiap perubahan yang terjadi di wilayah tersebut seperti subsidi harga pupuk, subsidi suku bunga kredit, perubahan harga padi dan lain sebagainya kesemuanya akan mempengaruhi seluruh bagian wilayah tersebut dengan proses yang sama.Apa yang berlaku di suatu bagian akan berlaku pula bagian wilayah lainnya.
2.      Wilayah Nodal
Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya (hinterland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, factor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transportasi.
Sadono Sukirno (1976) menyatakan bahwa pengertian wilayah nodal yang paling ideal untuk di gunakan dalam analisis mengenai ekonomi wilayah, mengartikan wilayah tersebut sebagai ekonomi ruang yang yang di kuasai oleh suatu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi.
Contoh wilayah nodal adalah DKI Jakarta dan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Jakarta yang merupakan inti dan Bodetabek sebagai daerah belakangnya.
3.      Wilayah Administratif
Wilayah Administratif adalah wilayah yang batas-batasnya di tentukan berdasarkan kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW.
Sukirno (1976) menyatakan bahwa di dalam praktek, apabila membahas mengenai pembangunan wilayah ,maka pengertian wilayah administrasi merupakan pengertian yang paling banyak digunakan. Lebih populernya pengunaan pengertian tersebut di sebabkan dua factor yakni :
a)      Dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah di perlukan tindakan-tindakan dari berbagai badan pemerintahan. Dengan demikian, lebih praktis apabila pembangunan wilayah di dasarkan pada suatu wilayah administrasi yang telah ada;
b)      Wilayah yang batasnya di tentukan berdasarkan atas suatu administrasi pemerintah lebih mudah di analisis, karena sejak lama pengumpulan data di berbagai bagian wilayah berdasarkan pada suatu wilayah administrasi tersebut.
4.      Wilayah Perencanaan.
Wilayah perencanan (planning region atau programming region) adalah merupakan wilayah yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi.
Wilayah perencanaan dapat dilihat sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatan kerja, namun cukup kecil untuk memungkinkan persoalan-persoalan perencanaannya dapat dipandang sebagai satu kesatuan.
Wilayah perencanaan mempunyai ciri-ciri:
(a)    Cukup besar untuk mengambil keputusan-keputusan investasi yang berskala ekonomi,
(b)   Mampu mengubah industrinya sendiri dengan tenaga kerja yang ada,
(c)    Mempunyai struktur ekonomi yang homogen,
(d)   Mempunyai sekurang-kurangnya satu titik pertumbuhan (growthpoint).
(e)    Mengunakan suatu cara pendekatan perencanaan pembangunan,
(f)    Masyrakat dalam wilayah itu mempunyai kesadaran bersama terhadap persoalan-persoalannya.
Beberapa contoh wilayah perencanaan yang sesuai dengan pendapat yang lebih menekankan pada aspek fisik dan ekonomi, yang ada di Indonesia:
a)      BARELANG (pulau Batam, P Rempang, P Galang) Daerah perencanaan tersebut sudah lintas batas wilayah administrasi.
b)      Konsep Pembangunan Jakarta Raya (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).
c)      Rencana Tata Ruang Kalimantan



Perkebunan sawit di KALBAR dan dampaknya bagi lingkungan


Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.Dari definisi yang diberikan UNEP, pengertian ekonomi hijau dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.
Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan beribukotakan Pontianak serta terkenal dengan provinsi seribu sungai. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Sebagai provinsi yang geografisnya terletak di garis khatulistiwa dan beriklim tropis serta topografi yang luas, perkembangan sektor perkebunan di Kalimantan barat dari tahun ketahun memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dalam skala perkebunan besar, produksi terbesar di Kalbar adalah tanaman kelapa sawit, dan untuk perkebunan rakyat, karet adalah komoditas utama yang menjadi primadona.
Secara teknis, kelapa sawit cocok untuk daerah Kalimantan Barat, karena tidak mempersyaratkan kesuburan tanah, Hampir sepertiga  luas wilayah Kal-bar sudah dikonversi menjadi wilayah perkebunan sawit. Hasil-hasil dari perkebunan ini memberikan kontribusi terhadap pembangunan di daerah Kalimantan Barat dan merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat di Kalbar. Selain bagi masyarakat, perusahaan pengelolanya juga dapat menghasilkan keuntungan dengan menjual hasil perkebunan baik melalui pasar domestik maupun pasar global.
Karet dan kelapa sawit merupakan bentuk usaha yang dipilih karena hasil yang sangat menjanjikan. Sekitar 60% lahan yang ada di Kalimantan Barat kini telah beralihfungsi menjadi perkebunan. Lahan terluas yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit  di Kalimantan Barat yaitu di kabupaten Sanggau dengan luas lahan 63.238 Ha, untuk peringkat kedua yaitu di kabupaten Ketapang dengan luas lahan 49.936 Ha, dan untuk terluas ketiga yaitu kabupaten Sekadau dengan luas lahan 24.634 Ha.
Dibalik dampak positif yang dihasilkan oleh perkebunan sawit ini, terdapat pula dampak negatifnya. Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar seperti sekarang ini, mengancam Kalimantan Barat sebagai satu kesatuan ekologis. Juga merusak keseimbangan alam dan lingkungan, seperti akar dari kelapa sawit sangat sulit untuk dibersihkan walaupun pohon sawit tersebut telah mati, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar akar dan tanah yang telah ditanami kelapa sawit dapat digunakan lagi. Selain itu tanah bekas perkebunan kelapa sawit akan menjadi gersang karena unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah telah habis.
 Dari Sambas menceritakan derita banyak orang karena pembukaan perkebunan sawit. Ada perusahaan melakukan sosialisasi diam-diam. Bahkan ada sosialisasi, langsung kemudian penggusuran lahan. Ada banyak lahan kebun dan perkuburan keramat (kuburan tua) yang digusur untuk perkebunan sawit. Tidak hanya itu, pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit kerap menimbulkan pencemaran diakibatkan asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan  pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.
Berdasarkan data Kasdam XII Tanjungpura bahwa konflik lahan yang ada di Kalimantan Barat cukup kencang saat ini sudah ada 84 kasus yang menyangkut lahan perkebunan.Dari 84 kasus tersebut, biasanya yang paling sering terjadi yaitu masyarakat adat dengan perkebunan, pemilik lahan dengan pemerintah, perusahaan dengan pemerintah, masyarakat dengan masyarakat dan karyawan dengan perusahaan. Salah satu contoh kasus yaitu persoalan di Kawasan Hutan adat Seruat Dua Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat  mengenai konflik antara masyarakat dan perusahaan kelapa sawit. Karena masyarakat resah akan lahan yang telah dirambah untuk perkebunan sawit, hal ini menjadikan mereka akan kesulitan mendapatkan air tawar pada saat kemarau datang setelah hutan itu gundul dikarenakan hutan itu adalah sumber air tawar bagi masyarakat.
 Hal yang paling dikritisi adalah pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan skala besar. Misalnya saja, target untuk luasan pembukaan perkebunan kelapa sawit yaitu 1,5 juta Ha. Kebun yang sudah ditanam dan telah dikelola mencapai 900 ribu hektar. Tetapi faktanya proses perizinan kini sudah mencapai 4,8- 4,9 juta Ha. Luas perkebunan yang masih dalam proses perizinan yang jauh lebih luas dari target itu akan kembali merusak hutan di Kalbar. Target yang 1,5 juta hektar itu sebenarnya prioritas untuk lahan kritis dan tidak produktif. Tetapi jika izin nanti melebihi target, bisa dipastikan jika yang diambil itu bukan hanya lahan kritis. Pasti di dalamnya ada tanah yang masih punya hutan, ada hutan produksi, dan lahan gambut. Wilayah  yang dikelola masyarakat menjadi semakin sempit.
Sebaiknya pemerintah melakukan pengecekan terhadap daerah-daerah yang telah melanggar dan melegalkan proses perizinan yang semestinya lahan itu bukan untuk perkebunan. Jika beberapa tahun kedepan pembukaan perkebunan masih terus diperluas, akibatnya akan terjadi bencana alam yang mungkin berujung pada bencana kemanusiaan. Seharusnya bencana alam dapat dicegah sejak dini, sebagai suatu harapan agar anak cucu nanti masih dapat melihat betapa indahnya alam yang luas dan pohon-pohon lebat maka mulai dari sekarang upayakan dalam menerima suatu perusahaan pertimbangkan matang-matang apa dampak yang ditimbulkan baik dampak positif maupun negatif.
Untuk itu, kami rasa perlu adanya sosialisasi tentang green economic di Kalimantan Barat yang sekarang sedang gencar di lakukan di seluruh Negara. Dengan melihat permasalahan dari dampak negative yang ditimbulkan dari perkebunan kelapa sawit, maka kami dapat menyimpulkan beberapa cara untuk meminimalisir kerusakan lingkungan hutan di Kalimantan Barat.
Berikut cara untuk mensukseskan Green Economic di Kalimantan Barat, ditengah maraknya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit :
1.      Memastikan keseimbangan alam tetap terjadi,yaitu mensinergiskan antara pembangunan dengan keadaan lingkungan sekitar
2.      Pendekatan melalui budaya dengan melakukan pembinaan terhadap pelaku perkebunan dengan mengadakan seminar penyampaian prinsip-prinsip pengelolaan perkebunan sesuai standar, termasuk prinsip tanggung jawab dan konservasi lingkungan
3.      Melakukan pengembangan komoditas lain, selamatkan dan tingkatkan kualitas karet rakyat
4.      Melakukan pemberdayaan partisipatif dengan membangun jejaring yang melibatkan anggota masyarakat sambil memanfaatkan lahan secara produktif dengan menanam aneka komoditi yang bernilai ekonomis contohnya mengembangkan komoditas jagung yang sudah mulai berkembang di Daerah Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya.
5.      Penghentian proyek yang bisa menghancurkan alam sekitar kita
6.      Memperkuat kebijakan soal tata kelola sumberdaya alam yang ada di Kalimantan Barat
7.      Melakukan sosialisasi pentingnya lingkungan hidup melalui berbagai media. Bersikap kritis terhadap situasi sekarang dan masa depan sambil menggalakkan gerakan cinta lingkungan
8.      Pemerintah harus menghentikan pemberian izin baru untuk perkebunan kelapa sawit, membentuk lembaga untuk mengawasi (audit) pelaksanaan pengelolaan lingkungan di perusahaan perkebunan, menerapkan sistem pengelolaan sumber daya alam Kalimantan Barat secara adil, lestari, dan berbasis kemasyarakatan yang mendukung keberlangsungan hidup seluruh rakyat Kalimantan Barat.

9.      Pihak perusahaan harus melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan kalangan akademis dalam proses dan keputusan mengenai AMDAL, membentuk dan mengoptimalkan divisi lingkungan hidup dalam setiap perusahaan sesuai dengan peraturan yang ada, menyelesaikan permasalahan-permasalahan perkebunan terhadap pihak-pihak terkait dengan tuntas dan adil, selain itu pihak perusahaan harus konsisten terhadap aturan pemerintah serta melaksanakan kesepakatan dengan masyarakat lokal secara jujur.
Di Tulis dan di sampaikan oleh SERDADU CAKAP
Safitri Akbari,Widiana,Anggun Arianto pada EDC (Econimic Debat Competition) BEM Faklultas Ekonomi UNTAN

Masalah pengangguran di Kalimanatan Barat


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa karena rahmat dan bimbingannya  kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul ‘’Masalah pengangguran di Kalimanatan Barat
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. kami mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
kami  menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang Dosen,teman dan para pembaca  untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih atas segala saran yang akan kami dapatkan dalam penulisan makalah ini ,semoga saja makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca demi kemajuan ilmu pengetahuan terutama di bidang yang sedang dijalani yakni Ekonomi.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Salah satu masalah sosial yang dihadapi Provinsi Kalimantan Barat adalah masalah penganguran. Pengangguran tidak hanya menjadi masalah sosial di Provinsi Kalimantan Barat, tetapi sudah menjadi masalah sosial di Provinsi-provinsi lain di Indonesia. Khusus di Kalimantan barat banyak sekali faktor yang menjadi penyebab penganguran, seperti : mutu pendidikan, kesiapan tenaga kerja, fasilitas, lapangan pekerjaan, sumber daya manusia yang tidak memadai.  Hal tersebut membuat banyak sekali orang yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapat pekerjaan. Pengangguran yang tinggi dapat berdampak secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap kemiskinan, kriminalitas, dan masalah-masalah sosial lain yang juga semakin meningkat. Dengan jumlah angkatan kerja yang semakin besar, arus migrasi yang terus mengalir masuk ke Privinsi Kalimantan Barat, serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini, membuat permasalahan  pengangguran menjadi sangat besar dan kompleks.
Menurut data terakhir, jumlah penganguran di Kalimantan Barat pada tahun 2010 di perkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa atau sekitar 4,62 persen dari 2,2 juta jiwa angkatan kerja yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Jika masalah pengangguran yang demikian besar dibiarkan berlarut-larut, maka sangat  besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial yang berdampak tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juda menimpa orangtua yang dapat kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup, sehingga angka penagguran di Provinsi Kalimantan Barat menjadi meningkat.
                    Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten/Kota
No
Kabupaten/Kota
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Rata2
1
Kab. Sambas
6,27
6,85
6,27
3,89
6,09
4,53
5,65
2
Kab. Bengkayang
8,52
13,57
5,87
4,71
4,02
3,21
6,65
3
Kab. Landak
4,11
3,92
3,36
4,03
4,38
4,61
4,07
4
Kab. Pontianak
9,72
12,45
9,23
9,07
9,75
7,80
9,67
5
Kab. Sanggau
8,05
9,30
4,39
2,80
3,30
3,62
5,24
6
Kab. Ketapang
10,27
11,12
5,91
4,29
5,15
3,90
6,77
7
Kab. Sintang
7,03
5,12
3,58
3,59
3,12
2,35
4,13
8
Kab. Kapuas Hulu
3,79
1,03
2,24
2,27
1,67
2,25
2,21
9
Kab. Sekadau
4,50
3,74
3,76
2,74
3,14
2,31
3,36
10
Kab. Melawi
0,99
1,03
2,60
1,96
1,82
1,30
1,40
11
Kota Pontianak
16,86
15,90
13,16
10,21
9,38
7,79
12,22
12
Kota Singkawang
8,07
9,16
11,05
10,09
9,71
8,05
9,36

Berdasarkan data BPS, tahun 2011 tingkat pengangguran terbuka di Kalimantan Barat (5,44%) relatif lebih rendah di bandingkan Kalimantan Selatan (6,36%) dan Kalimantan Timur (10,83%), lebih tinggi dari Kalimantan Tengah (3,39%). Tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat (9,30%) lebih tinggi dari Kalimantan lainnya, dimana Kalimantan Tengah (7,02%), Kalimantan Selatan (5,12%) dan Kalimantan Timur (7,73%).
Fenomena lain yang terjadi di Kalimantan Barat adalah penyerapan tenaga kerja tertinggi Kabupaten Pontianak (304.761 jiwa) dan terendah Kota Singkawang (68.363 jiwa) tetapi tingkat kemiskinan tertinggi Kabupaten Landak (18,65%) dan terendah Kabupaten Sanggau (6,25%). Kota/Kabupaten dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terbesar ternyata tidak diimbangi dengan tingkat kemiskinan yang rendah.
Pembangunan seharusnya menghasilkan kinerja pembangunan yang semakin baik daerah yang diukur dari pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan kemiskinan. Tetapi dari variabel makro ekonomi yang dicapai, dengan pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan, ternyata belum sepenuhnya mengatasi permasalahan yang dihadapi daerah kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Volume 8, 2012 177 . Barat. Permasalahan tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, pengangguran yang relatif tinggi dan kemiskinan yang relatif masih tinggi.
Kalau diperbandingkan antara daerah kabupaten dengan kota, ternyata tingkat pengangguran di Kota Pontianak dan Kota Singkawang relatif lebih tinggi di bandingkan dengan daerah kabupaten. Hal ini dikarenakan, sebagai daerah perkotaan tidak bisa menghindari arus urbanisasi (migrasi), sehingga perkembangan jumlah penduduk yang cepat diperkotaan tidak diikuti dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup, akibanya timbul pengangguran. Sedangkan untuk daerah kabupaten yang sebagian besarnya tingkat pengangguran relatif rendah. Walaupun dengan pendidikan yang relatif rendah, tersedianya sektor primer di pedesaan yang untuk memasuki lapangan pekerjaan ini tidak dengan persyaratan khusus, sehingga mempermudah penduduk untuk bekerja, dengan demikian tingkat pengangguran kabupaten lainnya relatif lebih rendah.

1.2.       Rumusan Masalah
1.2.1.      Apa pengertian pengangguran
1.2.2.      Macam-macam pengangguran
1.2.3.      Apa faktor-faktor penyebab pengangguran
1.2.4.      Apa yang menjadi masalah pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.2.5.      Apa dampak dari pengangguran bagi Provinsi Kalimantan barat
1.2.6.      Sajian data pengangguran di Provinsi Kalimantan barat
1.2.7.      Bagaimana cara mengatasi pengagguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.3.       Tujuan Penulisan
1.3.1.      Untuk mengetahui pengertian ( defenisi ) pengangguran
1.3.2.      Untuk mengetahui macam-macam pengangguran
1.3.3.      Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pengangguran
1.3.4.      Untuk mengetahui apa yang menjadi masalah pengangguran di provinsi Kalimantan Barat
1.3.5.      Untuk mengetahui dampak pengagguran bagi Provinsi Kalimantan Barat
1.3.6.      Untuk mengetahui data pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
1.3.7.      Untuk mengetahui cara mengatasi pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat






1.4.       Manfaat
Diharapkan  makalah ini dapat memberikan manfaat bagi :
1.4.1.      Penulis
Karena dengan dibuatnya tugas makalah ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan bagi si penulis mengenai masalah sosial, khususnya pengangguran.
1.4.2.      Rekan-rekan mahasiswa
Karena dengan dibuatnya tugas makalah ini diharapkan dapat berguna untuk rekan-rekan mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai masalah pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat.
Semoga makalah ini juga dapatdimanfaatkan dan dijadikan bahan masukan ataupun bahan pertimbangan dalam pembuatan makalah mengenai masalah pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat selanjutnya.
1.4.3.      Masyarakat
Masyarakat juga dapat menggunakan makalah ini untuk mengetahui fakto-faktor penyebab terjadinya pengangguran, sehingga masyarakat dapat bertindak langsung dalam upaya mengurangi angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat.
1.4.4.      Pemerintah
Makalah ini dapat menjadi bahan referensi bagi pemerintah untuk mencegak mangkin banyaknya pengngguran. 

BAB II
PEMBAHASAN


2.1.       Pengertian Pengangguran
Pengertian pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja ( yang berumur 15-64 tahun ) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapat pekerjaan. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya : seperti ibu rumah tangga, siswa sekolah smp, sma, mahasiswa, perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
2.2.       Macam-macam Pengangguran
Pengangguran sering di artikan sebagai angkatan kerjayang belum berkerja atau tidak berkerja secara optimal. Berdasarkan pengertian di atas, maka pengangguran dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :
ݬ    Pengangguran terselubung( Disguissed Unemployment ) adalah tenaga kerja yang tidak berkerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
ݬ    Setangah Menganggur ( Under Enemployment ) adalah tenaga kerja yang tidak berkerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan. Tenaga kerja yang dikatakan setengah menganggur, merupak an tenaga kerja yang berkerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
ݬ    Pengangguran Terbuka ( Open Unemployment ) adalah tenaga yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Penggangguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha mencari pekerjaan.
Ø   Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya
o    Pengangguran Konjungtural ( cycle Unempioyment ) adalah penganguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang ( naik-turunnya ) kehidupan perekonomian/ siklus ekonomi.
o    Pengangguran Struktural ( Struktural Unemployment ) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang pengangguran structural bias di akibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti : akibat permintaan berkurang, akibat kemajuan, dan penggunaan teknologi akibat kebijakan pemerintah.
o    Pengangguran Friksional ( Frictional Unemployment ) adalah pengangguran yangyang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran seperti ini sering di sebut pengangguran sukarela.
o    Pengangguran Musiman adalah pengangguran yang terjadi karena pergantian musimtanam ke musim panen.
o    Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin.
o    Pengangguran Siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian ( karena terjadi resesi ). Pengangguran siklus di sebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat.




2.3.       Faktor-faktor Penyebab Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Faktor-faktor yang menjadi penyebab pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut :
§   Mutu pendidikan di Provinsi Kalimantan yang masih rendah menyebabkan sumber daya manusia menjadi sulit bersaing.
§  Besarnya jumlah angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja (kesenjangan antara supply and demand). Ke tidak seimbangan terjadi apabilah jumlah angkatan kerja lebih besar dari pada kesempatan kerja yang tersedia, sedangkan kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
§  Struktur lapangan kerja tidak seimbang.
§  Masih adanya anak yang putus sekolah dan lulus sekolah tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya yang tidak terserap dunia kerja atau berusaha mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai.
§  Terjadinya pemutusan hubungan kerja ( PHK ) karena krisis global.
§  Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dengan penyediaan tenaga terdidik  tidak seimbang, dengan demikian apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar dari pada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasanya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dengan yang tersedia. Ke tidak seimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
§  Terbatasnya sumber daya alam di kota yang tidak memungkinkan lagi warga masyarakat untuk mengelola sumber daya alam menjadi mata pencarian.
§  Kurangnya informasi.
§  Tidak adanya system penerimaan publik.
§  Sulit menerapkan kepintarannya dalam dunia pekerjaan.

2.4.       Masalah Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Tingginya angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di Provinsi Kalimantan barat. Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus faktor penyebab  rendahnya taraf hidup karena Terbatasnya penyerapan sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Pemanfaatan sumber daya yang rendah dikarenakan buruknya efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Dua penyebab utama dari rendahnya pemanfaatan sumber daya manusia adalah karena tingkat pengangguran penuh dan tingkat pengangguran terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak. Jika hal ini di biarkan terus-menerus maka akan sangat besar kemungkinan angka pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat akan semangkin tinggi. Hal tersebut akan berakibat buruk, dan dapat menyebabkan terjadinya masalah sosial yang semangkin besar di masyarakat, seperti kemiskinan, kriminalitas dan lain-lain.
2.5.       Dampak Pengangguran Bagi Provinsi Kalimantan Barat
Pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika tingkat pengangguran tinggi, sumberdaya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendapatan masyarakat akan merosot. Situasi ini menimbulkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pada  emosi masyarakat dan dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Adapun dampak pengangguran terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat adalah sebagai berikut. Dilihat dari segi ekonomi, pengangguran memiliki dampak sebagai berikut :
ü  Pengangguran menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam berusaha.
ü  Pengangguran akan menghambat investasi, karena menurunnya jumlah tabungan masyarakat.
Ø   Dari segi sosial, dampak pengangguran adalah sebagai berikut :
·           Perasaan minder ( rendah diri ),
·           Meningkatnya angka kriminalitas,
·           Meningkatnya angka kemiskinan,
·           Munculnya pengamen, pengemis, anak jalanan, dan
·           Tingginya anak-anak yang putus sekolah.

2.6.       Data Pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat
Jumlah pengangguran di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2010 diperkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa dari total jumlah penduduk yang mencapai ±4.393.239 jiwa. Menurut data BPS ( tahun 2010 ), tingkat pengangguran terbuka ( TPT ) tertinggi terjadi di kota Singkawang sebesar 8,05 persen, di susul Kabupaten Pontianak 7,80 persen, Kota Pontianak 7,79 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka ( TPT ) terendah di Kabupaten Melawi sebesar 1,30 persen dan di susul Kapuas Hulu 2,25 persen. Sementara dari sisi jumlah pengangguran, terbesar di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya masing-masing 20,3 ribu jiwa dan 14,7 ribu jiwa, sedangkan paling sedikit di Kabupaten Melawi dan Sekadau, masing-masing 1,27 ribu jiwa dan 2,24 ribu jiwa, Sumber: Badan Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut hasil survei angkatan kerja nasional ( Sakernas ), tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK )di Provinsi Kalimantan Barat sebesar 73,17 persen atau sebanyak 2,2 juta jiwa. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK ) terbesar di kabupaten Kapuas hulu sebesar 79,82 persen dan melawi 78,95 persen. Sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK ) terendah di Kota Pontiank sebesar 65,61 persen dan di Kota Singkawang 66,61 persen.
Sementara untuk persentase penyerapan tenega kerja berada di tiga sector, yakni pertanian 60,43 persen; perindustrian 12,39 persen; dan pelayanan 27,18 persen. Menurut data sektor pertanian yang paling tinggi menyerap tenaga kerja, yakni di Kabupaten Landak sebesar 82,33 persen, terendah di Kota Pontinak 5,44 persen. Untuk jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat yabg berkerja di sektor formal 27,55 persen, kemudian informal 72,45 persen, sumber BPS Provinsi Kalimantan Barat.

2.7.       Cara Mengatasi Pengangguran di Provinsi Kalimanta Barat
Pengangguran ada bermacam-macam, untuk mengatasinya harus di sesuaikan denagn jenis pengangguran yang terjadi, yaitu sebagai berikut :
o  Pengangguran struktural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
ü   Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja.
ü   Segera memindahkan tenaga kerja dari sektor yang kelebihan ke  tempat dan sektor ekonomi yang kekeurangan.
ü   Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi lowongan kerja yang kosong .
ü   Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
ü   Menarik investor sebanyak-banyaknya.
o  Pengangguran friksional
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
v  Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.
v  Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.
v  Menggalakkan pengembangan seckor  informal, seperti home industri.
v  Menggalakan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya.
v  Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bias menyerap tenaga kerja secara langsung maupun utuk merangsang insvestasi baru dari kalangan swasta.
o  Pengangguran Musiman
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
ݬ    Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sektor lain.
ݬ    Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
o  Pengangguran Siklus
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
'    Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.
'    Meningkatkan daya beli masyarakat
o  Pengangguran Konjungtural
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
*        Meningkatkan daya beli masyarakat sehingga pasar menjadi ramai dan akan menambah jumlah permintaan.
*        Mengatur bunga bank agar tidak terlalu tinggi sehingga investor lebih suka menginvestasikan uangnya.
o  Pengangguran Teknologi
Untuk mengatasi pengangguran jenis ini, cara yang di gunakan adalah :
*    Mempersiapkan masyarakat untuk untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan cara memasukkan materikurikulum pelatihan teknologi di sekolah.
*    Pengenalan teknologi sejak dini
*    Pelatihan tenaga pendidik untuk penguasaan teknologi.



Ø   Secara umum pengangguran dapat di atasi dengan :
ü  Memperluas kesempatam kerja yang dapat di lakukan dengang dua cara, yaitu sebagI berikut :
v  Pengembangan industri, truta jenis industri yang bersifat padat karya ( yang dapat menyerap relatif banyak tenaga kerja ).
v  Melalui berbagai proyek perkerjaan umum, seperti pembuatan jalan, saluran air dan jembatan.
ü Menurunkan jumlah angkatan kerja
Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk menurunkan jumlah agkatan kerja, misalnya dengan program keluarga berencana, program wajib belajar dan pembatasan usia kerja minimum.Meningkatkan kualitas kerja dari tenaga kerja yang ada, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan tututan keadaan. Banyak cara yang bias di lakukan, seperti melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kursus, balai latihan kerja, mengikuti seminar dan yang lainnya. 




BAB III
PENUTUP
3.1.        Kesimpulan
Pengangguran adalah suatu kondisi dimana orang tidak dapat berkerja, karena tidak tersedinya lapangan perkerjaan. Ada berbagai macam pengangguran, misalnya : Pengangguran terselubung(Disguissed Unemployment), Setangah Menganggur (Under Enemployment), Pengangguran Terbuka (Open Unemployment), Pengangguran Konjungtural (cycle Unempioyment), Pengangguran Struktural (Struktural Unemployment), Pengangguran Friksional (Frictional Unemployment), Pengangguran Musiman, Pengangguran teknologi, Pengangguran Siklus. Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka penggangguran adalah sebagai berikut : Mutu pendidikan di Provinsi Kalimantan yang masih rendah, Besarnya jumlah angkatan kerja, Struktur lapangan kerja tidak seimbang, Masih adanya anak yang putus sekolah, Terjadinya pemutusan hubungan kerja ( PHK ), Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dengan penyediaan tenaga terdidik  tidak seimbang, Terbatasnya sumber daya ( baik sumber daya alam maupun sumber daya alam ). Tingginya angka pengangguran yang di sebabkan hal-hal tersebut, menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di Provinsi Kalimantan barat. Pengangguran juga bisa berdampak terhadap kehidupan ekonomi, seperti : menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, menghambat investasi, serta terhadap kehidupan sosial masyarakat, seperti : Perasaan minder ( rendah diri ), Meningkatnya angka kriminalitas, Meningkatnya angka kemiskinan, Munculnya pengamen, pengemis, anak jalanan dan Tingginya anak-anak yang putus sekolah. Menurut data pengangguran pada 2011 diperkirakan mencapai ± 101,6 ribu jiwa dari total jumlah penduduk yang mencapai ±4.393.239 jiwa. Hal ini sungguh sangat memperhatinkan dan harus segera di atasi dengan : Memperluas kesempatam kerja, Menurunkan jumlah angkatan kerja, Meningkatkan kualitas kerja dari tenaga kerja yang ada dan lain-lain.

3.2.        Saran
Sekitar ± 101,6 juta pengangguran di Provinsi Kalimantan barat, bukanlah persoalan kecil yang harus dihadapi oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dewsa ini dan kedepan. Penngangguran itu berpotensi menimbulkan kerawanan berbagai berbagai tindak criminal gejolak sosial, politik dan kemiskinan. Selain itu, pengangguran juga merupakan pemborosan yang luar biasa. Setiap orang harus mengkonsumsi beras, gula, minyak, pakaian, energi listrik, sepatu, jasa dan sebagainya setiap hari, tapi mereka tidak mempunyai penghasilan. Bisa kita bayangkan berapa ton beras dan kebutuhan lainnya harus disubsidi setiap harinya. Bekerja berarti memiliki produksi. Seberapa pun produksi yang dihasilkan tetap lebih baik dibandingkan jika tidak memiliki produksi sama sekali. Karena itu, apa pun alasan dan bagaimanapun kondisi Provinsi Kalimantan Barat saat ini masalah pengangguran harus dapat diatasi dengan berbagai upaya.
Sering berbagai pihak menyatakan persoalan pengangguran itu adalah persoalan muara. Berbicara mengenai pengangguran banyak aspek dan teori disiplin ilmu terkait. Yang jelas pengangguran hanya dapat ditanggulangi secara konsepsional, komprehensif, integral baik terhadap persoalan hulu maupun muara. Sebagai solusi pengangguran, berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh sebagai berikut.
Setiap penganggur diupayakan memiliki pekerjaan yang banyak bagi kemanusiaan artinya produktif dan remuneratif sesuai Pasal 27 Ayat 2UUD 1945 dengan partisipasi semua masyarakat Provinsi Kalimantan Barat.Lebih tegas lagi jadikan penanggulangan pengangguran  menjadi komitmen  bersama untuk itu diperlukan dua kebijakan, yaitu kebijakan  makro (umum)  dan mikro (khusus). Kebijakan makro (umum) yang berkaitan erat dengan pengangguran, antara lain kebijakan makro ekonomi seperti moneter berupa uang beredar, tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar yang melibatkan Bank Indonesia (Bank Sentral), fiskal (Departemen Keuangan) dan lainnya. 

3.3.        Daftar pustaka
Ø  RADIL/cara.mengatasi.pengangguran